Bukan Sekadar Hiburan Festival Unen-Unen Rembang Jadi Panggung Hidup Seni dan Budaya

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: 0; algolist: 0; multi-frame: 1; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; motionR: 0; delta:null; module: video;hw-remosaic: false;touch: (0.006349465, 0.049866233);sceneMode: 0;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 294.91034;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: 0;weatherinfo: null;temperature: 34;

REMBANG , hariansuarajateng.com– Suara musik tradisional, hentakan Barongan Ndas Papat hingga atraksi barongsai membuat Rumah Dinas Wakil Bupati Rembang bergemuruh, Sabtu (26/9/2026) malam.

Ratusan warga memadati lokasi untuk menyaksikan Festival Unen-Unen, sebuah panggung budaya yang tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga membuka ruang bagi seniman sekaligus mengenalkan kekayaan budaya Rembang kepada generasi muda.

Festival yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Rembang itu dikemas dengan konsep yang cukup beragam. Sejak siang, anak-anak sudah diajak bersentuhan langsung dengan aktivitas seni melalui kegiatan belajar mewarnai.

Sekitar 100 siswa sekolah dasar ikut ambil bagian. Mereka tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi diajak menjadi bagian dari kegiatan budaya.

Di lokasi yang sama, masyarakat juga dapat menikmati pameran seni tanah gerak sebelum malam harinya panggung pertunjukan mulai memanas.

Barongsai dan leang-leong tampil, kemudian disusul Barongan Ndas Papat, Unen-Unen Rengel hingga geguritan.

Beragam pertunjukan tersebut membuat Festival Unen-Unen menjadi ruang pertemuan berbagai warna kesenian. Seni tradisional Rembang tampil berdampingan dengan barongsai dan leang-leong yang juga memiliki komunitas di tengah masyarakat.

Suasana semakin hidup dengan hadirnya kuliner tradisional. Warga bisa menikmati kacang, telo godhok hingga kopi lelet sambil menyaksikan pertunjukan.

Plt Kepala Dinbudpar Kabupaten Rembang Isti Choma Wati mengatakan Festival Unen-Unen sengaja dikemas dengan nama yang membuat masyarakat penasaran.

“Ini kegiatan dari Dinbudpar, pementasan kesenian dan kebudayaan di Kabupaten Rembang. Namun kita menggunakan nama Festival Unen-Unen agar masyarakat penasaran dan akhirnya mengetahui bahwa festival ini menampilkan kesenian dan kebudayaan Rembang,” jelas Isti.

Namun di balik kemeriahan panggung, menurut Isti, ada misi yang jauh lebih penting, yakni regenerasi pelaku seni.

Anak-anak dan pelajar perlu dikenalkan dengan seni budaya sejak dini. Sebab, keberlangsungan kesenian daerah tidak hanya bergantung pada pertunjukan hari ini, tetapi juga pada siapa yang akan meneruskannya di masa depan.

“Kita rangkul semua agar regenerasi kita lebih cepat. Di SMP kemarin ada 100 siswa dan hari ini SD juga 100 siswa,” katanya.

Festival Unen-Unen merupakan rangkaian kegiatan yang sebelumnya diawali melalui Rembangan Fest sekitar dua pekan lalu.

Dalam kegiatan sebelumnya, sekitar 100 siswa SMP mendapatkan edukasi melalui pembuatan wayang dari jerami. Kali ini giliran pelajar SD yang diajak mengenal seni melalui kegiatan mewarnai.

Dinbudpar juga melibatkan siswa dari sekolah negeri dan swasta, termasuk sekolah di bawah naungan Kementerian Agama.

Tidak berhenti pada pelajar, kelompok seni juga diberi ruang untuk menunjukkan eksistensinya.

Isti menyebut kehadiran barongsai dan leang-leong menjadi bagian dari upaya memberikan ruang bagi komunitas seni untuk berkembang.

Artinya, panggung Festival Unen-Unen tidak hanya milik satu jenis kesenian.

Salah seorang pemain barongsai, Stephen, mengaku senang bisa tampil di hadapan masyarakat Rembang.

Menurutnya, semakin banyak panggung pertunjukan, semakin terbuka pula kesempatan untuk mengenalkan barongsai kepada masyarakat.

“Harapan saya barongsai semakin lama semakin maju dan rakyat semua bisa melihat barongsai tersebut. Semoga event-event seperti ini bisa lancar, terus maju dan sering digelar supaya menjadi hiburan bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Wisnu, warga Desa Kabongan Kidul, menilai Festival Unen-Unen memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat.

Ia menyoroti kemunculan Barongan Ndas Papat yang menurutnya belum banyak dikenal masyarakat.

“Seperti tadi ada pertunjukan Barongan Ndas Papat yang tidak banyak orang tahu. Bahkan musik seperti ini bisa memberikan wawasan yang lebih bagi masyarakat Rembang,” tuturnya.

Menurut Wisnu, kegiatan seni budaya seperti ini memiliki nilai lebih karena masyarakat mendapatkan hiburan sekaligus pengetahuan.

Festival juga bisa menjadi ruang rekreasi keluarga karena masyarakat dapat datang bersama teman maupun keluarga tanpa dipungut biaya.

“Jadi tidak hanya hiburan, tetapi masyarakat juga mendapatkan wawasan tentang kesenian yang ada di Rembang,” imbuhnya.

Festival Unen-Unen akhirnya bukan sekadar panggung pertunjukan satu malam.

Di tempat itu, anak-anak belajar mengenal seni, seniman mendapatkan ruang tampil, komunitas menunjukkan eksistensinya, sementara masyarakat kembali bersentuhan dengan berbagai kesenian yang tumbuh di Rembang.

Sebab, ketika panggung budaya terus dihidupkan dan generasi muda mulai dilibatkan, seni tradisi tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap memiliki ruang untuk tumbuh di tengah masyarakat.

Exit mobile version