Disdikbud Boyolali Terapkan Lima Hari Sekolah, Tingkatkan Efisiensi dan Karakter Anak

Disdikbud Boyolali Terapkan Lima Hari Sekolah, Tingkatkan Efisiensi dan Karakter Anak
Disdikbud Boyolali Terapkan Lima Hari Sekolah, Tingkatkan Efisiensi dan Karakter Anak

Harian Suara Jateng – 15 Juli 2026 | Pemerintah Kabupaten Boyolali secara resmi memulai uji coba penerapan kebijakan lima hari sekolah pada tahun ajaran baru yang dimulai sejak 13 Juli 2026. Kebijakan ini menyasar seluruh jenjang pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), baik status sekolah negeri maupun swasta.

Penerapan sistem lima hari sekolah ini merupakan respons dari hasil angket atau jajak pendapat yang sebelumnya telah disebarkan kepada ribuan responden, yang meliputi guru, tenaga kependidikan, serta orang tua murid. Dari hasil survei tersebut, mayoritas masyarakat menyatakan sepakat untuk mencoba skema baru ini demi meningkatkan efisiensi dan penguatan karakter anak didik.

BACA JUGA:  Universitas Muhammadiyah Purwokerto Buka Layanan TOEIC Berstandar Internasional

Sekretaris Daerah Kabupaten Boyolali, M. Syawalludin, menegaskan bahwa langkah ini diambil setelah melalui pembahasan matang bersama dinas terkait serta didukung oleh hasil polling dari pihak sekolah dan orang tua murid. “Kemarin Disdikbud itu melakukan survei polling kepada teman-teman guru dan orang tua siswa. Salah satu opsinya kita akan melakukan uji coba,” kata M. Syawalludin saat ditemui dikantornya pada Senin, 13 Juli 2026.

Uji coba dilaksanakan selama satu semester dimulai di tanggal 13 Juli tahun 2026 sampai dengan di akhir bulan Desember tahun 2026. Setelah itu nantinya akan ada evaluasi untuk kelanjutan perubahan program belajar tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Boyolali, Dwi Hari Kuncoro, memaparkan secara detail mengenai teknis alokasi jam mengajar serta landasan survei yang menguatkan keputusan uji coba tersebut. “Salah satu pertimbangan penerapan lima hari sekolah untuk jenjang TK, SD, SMP, baik negeri maupun swasta adalah hasil angket yang kita sebarkan dari responden yang kami dapat sejumlah 37.797, yang terdiri dari guru atau tenaga kependidikan sebanyak 5.113 responden dan orang tua murid sebanyak 32.684 responden. Dengan hasil akhir yang menyampaikan setuju terkait dengan enam hari sekolah itu sebanyak 44,1 persen dan yang setuju 5 hari sekolah itu sebanyak 55,9 persen,” ucap Dwi Hari Kuncoro.

BACA JUGA:  Bantuan Tablet Edukasi untuk Sekolah Tanpa Internet di Banyumas

Selain mengacu pada hasil angket, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Boyolali, Dwi Hari Kuncoro menambahkan bahwa ada pertimbangan lain yang menjadi acuan perubahan waktu belajar menjadi lima hari, yakni mampu mengefisiensi biaya hingga listrik. “Pertimbangan yang lain juga banyak, salah satunya untuk efisiensi, biar sekolah juga bisa irit listrik, irit air, anak-anak juga bisa mengurangi uang sakunya dalam satu minggu. Pertimbangan lain juga karena makan siang mereka sekarang sudah ada MBG (Makan Bergizi Gratis) yang menyediakan makan siang gratis,” ucapnya menambahkan.